Jumat, 01 Februari 2008

STRUKTUR PENGURUS

STRUKTUR PENGURUS

PERGERAKAN MAHASISWA ISLAM INDONESIA

KOMISARIAT STAIN PONOROGO 2007-2008

MAJLIS PEMBINA KOMISARIAT:

  1. Muhaddam Faham. M.Ag
  2. Drs. M. Muhsin
  3. H. A. Rodli Makmun., M.Ag
  4. DR. H. Abdul Mun'im Sholeh, M. Ag.
  5. Evi Muafiah. M.Ag
  6. Aksin Wijaya. M.Ag
  7. Iswahyudi M. Fil.I
  8. Zainul Yusuf, S. H.I.
  9. Heru Susanto, S. Th. I.
  10. Syaiful Fathoni, S.H.I.
  11. Arwan Hamidi S.Th.I

Ketua Umum : Aris TontowI

Sekretaris Umum : Ali Mustofa

Ketua I : Miftahul Fauzi

Sekretaris I : Nanang qosim

Ketua II : Miswanto

Sekretaris II : M. zainudin

Ketua III : Zakya Very

Sekretaris III : Ruliana Zubaidah

Bendahara umum : Imam Syafi'i

LEMBAGA-LEMBAGA :

Lembaga Keintelektualan Dan Pengkaderan (LKIP)

M. Abid Dardak (Co)

Ahmad Yulianto

Ahmad Munajib

Agus Ma'ruf

Lembaga Pengembangan Opini Publick (LPOP)

M. Lukman (Co)

Mahriza zamzami

Subroto

Deni Setyawan

Lembaga social Dan Advokasi (LSAD)

Eriva Khoirul Anam (Co)

Imron Asmuri

Miftahul huda

Agus Setyo Budi

Mukhlis ahmadi

Lembaga Pemberdayaan Kader Putri (LPKP)

Dewi puspita ponto (Co)

Ali wafa

Miftahul Roifah

Riska Triana

Widyani Nurul Islami Hati

Anita Maslahah

Lembaga Kerumah Tanggaan (LKR)

Septian Andri Wijaya (Co)

Atiem Setyo Nugroho

Hafid As'ad

Priyo Zainudin

Minggu, 27 Januari 2008

TERM OF REFERENCE

TERM OF REFERENCE

PELATIHAN KADER DASAR

PMII KOMISARIAT STAIN PONOROGO 2008

I. LANDASAN PEMIKIRAN

PMII merupakan organisasi yang memiliki agenda cukup berat, terutama untuk tujuan mempertegas diri sebagai organisasi kader dan sebagai organisasi gerakan. Walaupun PMII secara organisasi memiliki kader yang besar secara kuantitas dan mempunyai kemampuan yang setara dalam kualitas, namun muncul kontradiksi dalam sebuah ideology. Ia memiliki kekuatan menghadapi kritik dan serangan dari lawan ideology, Semakin besar kontradiksi dan polemik diwilayah intenal organisasi dalam memandang sebuah ideologi, maka akan semakin lemah menghadapi serangan lawan ideologinya.

Ideologi dalam konteks sebuah gerakan sosial atau organisasi, memiliki beberapa aspek kunci yakni landasan filosofis dan analisis sosial, tahap-tahapan perjuangan/gerakan dan masyarakat ideal (yang dituju) dimasa depan. Artinya, ideologi selalu memiliki unsur pondasi (berpijak pada tujuan-tujuan). Berangkat dari pembacaan dan analisa berbagai sumber serta membaca kecenderungan sebuah gerakan sosial, maka dapat dilihat dan diidentifikasi elemen kunci dari ideology sebuah gerakan, diantaranya :

- Landasan filosofis (ontologis, epistemologis maupun metode berfikir) baik tentang bagaimana realitas, manusia, masyarakat maupun sejarah di definisikan.

- Tahapan perjuangan (Proses Gerakan). Tahapan dan proses pergerakan yang harus dilalui oleh organisasi untuk menuju terwujudnya visi dan tujuan organisasi.

- Masyarakat ideal. Masyarakat masa depan yang di cita-citakan oleh organisasi tersebut, seperti Masyarakat sejahtera (Welfare state), Daulah Islamiyah, civil society, masyarakat kapitalis dan sebagainya.

Kita lihat gambaran di atas, sebuah ideologi dapat memenuhi fungsi mengarahkan aktifitas gerakan bila mampu memberikan kesan universal, obyektif dan natural. Maka ideologi selalu melakukan universalisasi, obyektifikasi sekaligus naturalisasi gagasan-gagasan yang sedang di usungnya.

Universalisasi, ideologi harus mampu menjelaskan gagasan, analisis dan pandangannya bisa berlaku di semua belahan dunia. Masyarakat sosialis misalnya, di ramalkan Marx akan bisa berada di semua tempat, dan oleh karena itu tahapan – tahapan revolusi-pun akan terjadi di semua tempat. Tanpa memandang suku, bangsa agama dan sejenisnya.

Obyektifikasi, ideologi harus mampu menjelaskan gagasan, analisis dan pandangannya di dukung oleh metode ilmiah dan empirik. Bagaimana Marx menunjukkan cara dia menjawab pertanyaan: mengapa terjadi pengkelasan sosial. Jawabannya: adanya surplus value, yang dianut oleh pemegang modal yang diteliti dari konteks Eropa barat pada abad XIX. Bila kita amati proses ini melampaui hukum-hukum metode ilmiah yang sangat ketat, yang akhirnya sampai kesimpulan.

Naturalisasi, ideologi selalu berusaha menunjukkan gagasannya selalu alamiah (natural), yang merupakan potret kejadian yang sangat alamiah. Perputaran kenyataan kehidupan, baik kemasyarakatan atau yang lainnya di definisikan oleh sebuah ideologi sebagai kenyataan yang ‘apa adanya’ dan tidak di buat-buat.

Jadi memang kaderisasi PMII tidak di arahkan untuk menjadi “pabrik kader” yang kemudian PMII di anggap sebagai perusahaan yang secara langsung bertanggung jawab “mendistribusikan kader”, dan yang harus di ingat PMII bukan PJTKI (Pengerah Jasa Tenaga Kerja Indonesia) yang bertanggungjawab mendistribusikan orang per orang.

Tapi, yang pasti tugas PMII adalah “mempersiapkan penajaman analisa dan wacana kader yang akan mampu di semai dalam potensi civil society dan sebuah harapan dengan adanya suatu kegiatan semisal, PKD (Pelatihan Kader Dasar), bisa menentukan sikap dan komitmennya terhadap organiasi, dan juga diharapkan bisa berjuang lewat ‘area’ yang tepat. Hal tersebut kami lebih sreg menyebutnya sebagai ‘diaspora’, atau pembagian ruang perjuangan. Karena bila menggunakan kata ‘distribusi’ konotasinya pasti soal “kue kekuasaan ekonomi atau politik’. Dan satu-satunya cara yang paling efektif dalam proses pembagian ruang perjuangan adalah komunikasi yang tidak terhenti dengan para alumni, tentu dengan landasan logika dan idealisme gerakan PMII, bukan menurut para alumni.

Kalimat organik, liberatif, populis, transformatif kesemuanya mengarah pada tugas membumikan keadilan bagi mereka yang tertindas. Dan dalam taraf ini PMII memang dapat dikatakan mengusung nilai-nilai tertentu, dalam kerja internalisasi nilai terhadap kader. Tapi sekali lagi ini tidak dapat dikatakan ideologi, namun keberpihakan nilai semata. Dalam konteks inilah kaderisasi yang berlandaskan pada pendekatan pendidikan berbasis kesadaran menjadi sangat penting untuk di kaji. Sehingga nantinya dapat diharapkan menjadi kader ulul albab dan dapat memainkan perannya dalam membangun kehidupan kemanusiaan yang rahmatan lil ‘alamin.

II. NAMA KEGIATAN

Kegiatan ini bernama Pelatihan Kader Dasar (PKD) 2008 PMII Komisariat STAIN Ponorogo.

III. TEMA KEGIATAN

Kegiatan ini bertemakan : Mempertajam Analisa Kader Dalam Wacana gerakan dan kekinian; upaya mempelopori perubahan social di Masyarakat”

IV. LANDASAN KEGIATAN

1. Pancasila dan UUD 1945

2. AD/ART,GBHO/GBHK Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia

3. Program Kerja Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia ( PMII) Komisariat STAIN Ponorogo masa gerak 2007-2008

4. Keputusan musyawarah kader PMII Komisariat STAIN Ponorogo, pada hari Selasa, 9 Januari 2008 di sekretariat PMII Komisariat STAIN Ponorogo.

V. TUJUAN KEGIATAN

Tujuan diadakannya Pelatihan Kader Dasar (PKD) 2008 ini adalah sebagai berikut :

1) Terciptanya kader yang massif ideologis

2) Tertanamnya kesadaran Kritis Transformatif dalam Bergerak.

3) Adanya Imajined Community berbasis ke-Indonesiaan dan Ke-Islaman pada diri kader.

VI. PESERTA KEGIATAN

Peserta dari Pelatihan Kader Dasar (PKD) 2008 ini adalah kader PMII se- Cabang Ponorogo dan Pendelegasian Kader-Kader se-Matraman.

VII. WAKTU DAN TEMPAT

Kegiatan akan dilaksanakan pada hari Kamis-Minggu, tanggal 7-10 Februari 2008 bertempat di Balai Besa Karangan, Balong, Ponorogo.

VIII. PENYELENGGARA

Kegiatan ini diselenggarakan oleh Panitia Pelatihan Kader Dasar (PKD) 2008, di bawah naungan pengurus PMII Komisariat STAIN Ponorogo

X. PENDANAAN

Terlampir

XI. PENUTUP

Demikian proposal kami buat untuk menjadi bahan pertimbangan. Dukungan dan partisipasi dari berbagai pihak sangat kami harapkan guna terselenggaranya kegiatan tersebut sesuai dengan yang diharapkan. Atas perhatian dan pasrtisipasinya kami sampaikan terima kasih. Hal-hal yang belum diatur dalam proposal ini akan ditentukan kemudian.

Ponorogo, 20 Januari 2008

Panitia Pelaksana

M. Dedy Nasir Sita

Ketua

Nur Abidin

Sekretaris

Mengetahui dan Menyetujui,

Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia

PMII Cabang Ponorogo

M. Ihsan Khudlori

Ketua

PMII Komisariat STAIN

Aris Tontowi

Ketua


SUSUNAN KEPANITIAAN

PELATIHAN KADER DASAR (PKD) 2008

PMII Komisariat STAIN Ponorogo

PELINDUNG : Mabinkom PMII Komisariat STAIN Ponorogo

PENANGGUNG JAWAB : Ketua Serta Segenap PK. PMII STAIN Ponorogo

STEERING COMMITTE (SC)

Manager : Miftahul Fauzi

Wakil Manager : Ali Mustofa

Sekretaris : Miswanto

Bendahara : Zakiya very A.S.

Koordinator Materi : Moh. Luqman

Ice Breaker : Abid Dardak + (Protokoler)

Penanggung Jawab materi:

Koord. Materi Aswaja Sebagai Manhajul al-Fikr : Aris Tontowi

Koord. Materi Paradigma PMII : Miftahul Fauzi

Koord. Materi Islam Teologi Pembebasan : Wahyu Saputra

Koord. Materi Strategi Pengembangan PMII : Erma Millati F.

Koord. Materi Analisa Social : Abid Dardak

Koord. Materi Analisa Wacana : Alayk Mubarrok

Koord. Materi Study Advokasi Kebijakan : Ali Mustofa

Koord. Materi Rekayasa Social : Dedi Nasir Sita

Koord. Materi Pengelolaan Opini dan Ger. Massa : Sumarno

ORGANIZING COMMITTE (OC)

Ketua : M. Dedy Nasir Sita

Wakil Ketua : Tarwina Fattawi

Sekretaris : Nur Abidin

Bendahara : Nuning Suharni

DIVISI-DIVISI

KESEKRETARIATAN

Sumarno (koord)

Nadia

Mahfud

Enda Arofa

PROTOKOLER/ KEGIATAN

Allyak Mubarok(Koor)

Erma millati F.

Abid Dardak

Ulyatul Ulna

Dpa/ Perlengkapan

Muhtar Aly (Koord)

Miswanto

Rudi

Zainal Arifn

REKRUTMEN

Tumini (Koor)

Maisaroh

Rossi

Khoirul Fatoni

PENDANAAN

Anshor Ridlwani (Koor)

Miftahul Fauzi

Subroto

Aris Taufiqurrohman

KONSUMSI

Wahyu Saputra (Koor)

Zakiya Very Ayu

Roifa Dzakiya

Istiana

HUMAS

Imam Mahfud Fauzi

Atiem Setyo Nugroho

M. Erwan Khuzaini

Yustafid

KEAMANAN

Nanang Qosim (Koor)

Eriva Khoirul Anam

Ali Mustofa

Agus


ESTIMASI DANA

I. KESEKRETARIATAN

01. Stempel + Tinta + Stapes + Bak Stempel Rp. 50.000,-

02. Surat menyurat + Amplop Surat Rp. 150.000,-

03. Sertifikat @ 1000x 50 Rp. 50.000,-

04. Formulir + Brosur @ 100 x 100 Rp. 10.000,-

06.Stiker @ 1000 x 100 Rp. 100.000,-

07. Block Note @ 2.000 x 100 Rp. 200.000,-

08. Vandel @20 .000 x 9 Rp. 180.000,-

09. Map @ 500 x 100 Rp. 50.000,-

10. Pengggandaan Proposal Rp. 50.000,-

11. Co Card @ 500 x 100 Rp 50.000,-

12. Spidol Break Marker @ 2.500 x 20 Rp. 50.000,-

13. Penghapus @ 2.500 x 2 Rp. 5.000,-

Jumlah Rp. 945.000,-

II. DPA/ PERLENGKAPAN

01. Sewa Tempat Rp. 300.000,-

02. Dekorasi Rp. 100.000,-

03. Spanduk 2 x 5 m. X 2 x 75 Rp. 150.000,-

04. Sound System Rp. 250.000,-

05. Dokumentasi 2 rol film + cuci cetak Rp. 180.000,-

06. Transportasi Rp. 300.000,-

07. Lain-lain Rp. 50.000,-

Jumlah Rp.1.330.000,-

III. KONSUMSI

01. Nasi @ 2000 x 50 Peserta x10 Rp 1.000.000,-

02. Snack @ 1000 x 50 Peserta x 2 Rp 100.000,-

03. Nasi @ 2000 x 30 Panitia x 10 Rp. 600.000,-

03. Snack Panitia @ 1000 x 30 x 2 Rp. 60.000,-

04. Air Minum 5.000,- x 20 Galon Rp. 100.000,-

05. Air Minum 1.500 ml 1 dos Rp. 25.000,-

06. Snack Tutor @ 2.500,- x 9 Rp. 22.500,-

07. Transportasi Rp. 100.000,-

08. Lain-lain Rp. 150.000,-

Jumlah Rp. 2.127.500,-

IV. PENDANAAN

01. Biaya operasional Rp. 100.000,-

02. Telefon Rp. 50.000,-

03. Transportasi Rp. 100.000,-

03. Lain-lain Rp. 50.000,-

Jumlah Rp. 300.000,-

V. REKRUTMEN

01. Buku Besar Rp. 5.000,-

02. Lem + Bolpoint + Spidol Rp. 5.000,-

03. Kuitansi @ 2.500 x 4 Rp. 10.000,-

04. Konsumsi Rp. 50.000,-

05. Lain-lain Rp. 50.000,-

Jumlah Rp. 120.000,-

VI. PROTOKOLER

01. Honor Nara Sumber 50.000x 9 Rp. 450.000,-

02. Transportasi Rp. 200.000,-

Jumlah Rp. 650.000,-

VII. KEAMANAN

01. Konsumsi Rp. 50.000,-.

02. Perlengkapan Rp. 25.000,-

03. Dana lain-lain Rp. 25.000,-

Jumlah Rp. 100.000,-

TOTAL GENERAL

I. KESEKRETARIATAN : Rp. 945.000,-

II. DPA/ PERLENGKAPAN : Rp. 1.330.000,-

III. KONSUMSI : Rp. 2.127.500,-

IV. PENDANAAN : Rp. 300.000,-

V. REKRUITMEN : Rp. 120.000,-

VI. PROTOKOLER : Rp. 650.000,-

VII. KEAMANAN : Rp. 100.000,-

VIII. DANA TAK TERDUGA : Rp. 50.000,-

JUMLAH TOTAL : Rp. 5.622.500,-


MANUAL KEGIATAN

No

Hari/Tanggal

Waktu

Kegiatan

Penjab

1

Kamis/

7 Februari 2008

13.00-14.00

14.00-15.00

15.00-15.30

15.30-17.00

17.00-19.30

19.30-20.30

20.30-22.00

22.00-23.00

23.00-04.00

Pemberangkatan

Perjalanan ke lokasi

Istirahat

Persiapan Pembukaan

Istirahat

Opening Ceremony

Kontrak forum

Pra Kurikula

Melukis di atas bantal

OC

OC

ALL

OC & SC

ALL

ALL

SC

SC

ALL

2

Jum’at/8 Februari 2008

04.00-05.00

05.00-05.30

05.30-07.30

07.30-08.00

08.00-10.00

10.00-11.00

11.00-12.00

12.00-13.30

13.30-13.45

13.45-14.00

14.00-15.45

15.45.16.30

16.30-19.00

19.00-19.30

19.30-21.00

21.00-21.30

21.30-23.00

23.00-04.00

Sholat subuh berjama’ah

Olah raga

(bersih diri dan breakfast)

Pra wacana

Materi I

Aswaja Sebagai Manhajul Fikr

Oleh : Drs. H. Sugihanto, M.Ag

Pendalaman

Rapat Pleno

Ishoma

Ice Breaker

Pra wacana

Materi II

Paradigma PMII

Oleh: Murdianto, S.Pd.I

Pendalaman

Ishoma

Pra wacana

Materi III

Strategi Pengembangan PMII

Oleh : (PKC. PMII)

Pendalaman

Sidang Pleno

Membangun impian

OC

OC

ALL

SC

SC

SC/OC

SC

ALL

SC/OC

SC

SC

SC/OC

ALL

SC

SC

SC/OC

SC/OC

ALL

3

Sabtu/9 Februari 2008

04.00-05.00

05.00-05.30

05.30-07.30

07.30-08.00

08.00-10.00

10.00-12.00

12.00-13.45

13.45-14.00

14.00-16.00

16.00-16.30

16.30-17.00

17.00-19.00

19.00-19.30

19.30-21.00

21.00-21.30

21.30-23.00

23.00-04.00

Sholat subuh berjama’ah

Olah raga

(bersih diri dan breakfast)

Pra wacana

Materi IV

Islam Sbg Theologi Pembebasan

Oleh : DR. Aksin Wijaya, M.Ag

Pendalaman

Ishoma

Pra wacana

Materi V

Analisa Sosial

Oleh : A. Zainul Hamdi, M.Ag

Pendalaman

Diskusi Pleno

Istirahat

Pra wacana

Materi VI

Analisa Wacana

Oleh : Syaiful Watoni, S.Hi

Pendalaman

Pemutaran Film

Membangun pulau Impian

ALL

OC

ALL

SC

SC

SC/OC

ALL

SC

SC

SC/OC

SC/OC

ALL

SC

SC

SC/OC

SC/OC

ALL

4

Minggu/10 Februari 2008

04.00-05.00

05.00-05.30

05.30-07.30

07.30-08.00

08.00-09.30

09.30-10.00

10.00-12.00

12.30-13.30

13.30-14.00

14.00-15.30

15.30-16.00

16.00-16.30

16.30-17.00

17.00-….

Sholat subuh berjama’ah

Olah raga

(bersih diri dan breakfast)

Pra wacana

Materi VII

Studi Advokasi Kebijakan

Oleh : Bpk. Agung

Pendalaman

Materi VIII

Pengelolaan Opini dan Gerakan Massa

Oleh : Heru Susanto, S.THi

Ishoma

Pra wacana

Materi IX Rekayasa Sosial

Oleh : Zainul Yusuf, S.Hi

Diskusi Panel

Rencana Tindak Lanjut (RTL)

Closing Ceremony

Sayonara

ALL

OC

ALL

SC

SC

SC/OC

SC

ALL

SC/OC

SC

SC/OC

SC

OC

ALL

Rabu, 23 Januari 2008

Nilai Dasar Pergerakan

Nilai Dasar Pergerakan
Berkat rahmat dan hidayah Allah SWT, Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia berusaha menggali sumber nilai dan potensi insan warga pergerakan untuk dimodifikasi di dalam tatanan nilai baku yang kemudian menjadi citra diri yang diberi nama Nilai Dasar Pergerakan (NDP) PMII. Hali ini dibutuhkan di dalam memberikan kerangka, arti dan motivasi dan wawasan pergerakan dan sekaligus memberikan dasar pembenar terhadap apa saja yang akan dan mesti dilakukan untuk mencapai cita-cita perjuangan sesuai dengan maksud didirikannya organisasi ini.
Insaf dan sadar bahwa semua itu adalah kejarusan bagi setiap fungsionaris maupun anggota PMII untuk memahami dan menginternalisasikan nilai dasar PMII itu, baik secara orang perorang maupun bersama-sama.

BAB I
ARTI, FUNGSI, DAN KEDUDUKAN

Arti :
Secara esensial Nilai Dasar Pergerakan ini adalah suatu sublimasi nilai ke-Islaman dan ke-Indonesiaan dengan kerangka pemahaman keagamaan Ahlussunnah wal jama’ah yang menjiwai berbagai aturan, memberi arah dan mendorong serta penggerak kegiatan-kegiatan PMII. Sebagai pemberi keyakinan dan pembenar mutlak, Islam mendasari dan menginspirasi Nilai Dasar Pergerakan ini meliputi cakupan aqidah, syari’ah dan akhlak dalam upaya kita memperoleh kesejahteraan hidup di dunia dan akhirat. Dalam upaya memahami, menghayati dan mengamalkan Islam tersebut, PMII menjadikan Ahlussunnah wal jama’ah sebagai pemahaman keagamaan yang paling benar.

Fungsi :
Landasan berpijak:
Bahwa NDP menjadi landasan setiap gerak langkah dan kebijakan yang harus dilakukan.
Landasan berpikir :
Bahwa NDP menjadi landasan pendapat yang dikemukakan terhadappersoalan-persoalan yang dihadapi.
Sumber motivasi :
Bahwa NDP menjadi pendorong kepada anggota untuk berbuat dan bergerak sesuai dengan nilai yang terkandung di dalamnya.
Kedudukan :
Rumusan nilai-nilai yang seharusnya dimuat dan menjadi aspek ideal dalam berbagai aturan dan kegiatan PMII.
Landasan dan dasar pembenar dalam berpikir, bersikap, dan berprilaku.


BAB II
RUMUSAN NILAI DASAR PERGERAKAN
1. TAUHID :
Meng-Esakan Allah SWT, merupakan nilai paling asasi yang dalam sejarah agama samawi telah terkandung sejak awal keberadaan manusia.
Allah adalah Esa dalam segala totalitas, dzat, sifat-sifat, dan perbutan-perbuatan-Nya. Allah adalah dzat yang fungsional. Allah menciptakan, memberi petunjuk, memerintah, dan memelihara alam semesta ini. Allah juga menanamkan pengetahuan, membimbing dan menolong manusia. Allah Maha Mengetahui, Maha Menolong, Maha Bijaksana, Hakim, Maha Adil, dan Maha Tunggal. Allah Maha Mendahului dan Maha Menerima segala bentuk pujaan dan penghambaan.
Keyakina seperti itu merupakan keyakinan terhadap sesuatu yang lebih tinggi dari pada alam semesta, serta merupakan kesadaran dan keyakinan kepada yang ghaib. Oleh karena itu, tauhid merupakan titik puncak, melandasi, memadu, dan menjadi sasaran keimanan yang mencakup keyakinan dalam hati, penegasan lewat lisan, dan perwujudan dalam perbuatan. Maka konsekuensinya Pergerakan harus mampu melarutkan nilai-nilai Tauhid dalam berbagai kehidupan serta terkomunikasikan dan mermbah ke sekelilingnya. Dalam memahami dan mewujudkan itu, Pergerakan telah memiliki Ahlussunnah wal jama'ah sebagai metode pemahaman dan penghayatan keyakinan itu.
2. HUBUNGAN MANUSIA DENGAN ALLAH.
Allah adalah Pencipta segala sesuatu. Dia menciptakan manusia dalam bentuk sebaik-baik kejadian dan menganugerahkan kedudukan terhormat kepada manusia di hadapan ciptaan-Nya yang lain.
Kedudukan seperti itu ditandai dengan pemberian daya fikir, kemampuan berkreasi dan kesadaran moral. Potensi itulah yang memungkinkan manusia memerankan fungsi sebagai khalifah dan hamba Allah. Dalam kehidupan sebagai khalifah, manusia memberanikan diri untuk mengemban amanat berat yang oleh Allah ditawarkan kepada makhluk-Nya. Sebagai hamba Allah, manusia harus melaksanakan ketentuan-ketentauan-Nya. Untuk itu, manusia dilengkapi dengan kesadaran moral yang selalu harus dirawat, jika manusia tidak ingin terjatuh ke dalam kedudukan yang rendah.
Dengan demikian, dalam kehidupan manusia sebagai ciptaan Allah, terdapat dua pola hubungan manusia dengan Allah, yaitu pola yang didasarkan pada kedudukan manusia sebagai khalifah Allah dan sebagai hamba Allah. Kedua pola ini dijalani secara seimbang, lurus dan teguh, dengan tidak menjalani yang satu sambil mengabaikan yang lain. Sebab memilih salah satu pola saja akan membawa manusia kepada kedudukan dan fungsi kemanusiaan yang tidak sempurna. Sebagai akibatnya manusia tidak akan dapat mengejawentahkan prinsip tauhid secara maksimal.
Pola hubungan dengan Allah juga harus dijalani dengan ikhlas, artinya pola ini dijalani dengan mengharapkan keridloan Allah. Sehingga pusat perhatian dalam menjalani dua pola ini adalah ikhtiar yang sungguh-sungguh. Sedangkan hasil optimal sepenuhnya kehendak Allah. Dengan demikian, berarti diberikan penekanan menjadi insan yang mengembangkan dua pola hubungan dengan Allah. Dengan menyadari arti niat dan ikhtiar, sehingga muncul manusia-manusia yang berkesadaran tinggi, kreatif dan dinamik dalam berhubungan dengan Allah, namun tetap taqwa dan tidak pongah Kepada Allah.
Dengan karunia akal, manusia berfikir, merenungkan dan berfikir tentang ke-Maha-anNya, yakni ke-Mahaan yang tidak tertandingi oleh siapapun. Akan tetapi manusia yang dilengkapi dengan potensi-potensi positif memungkinkan dirinyas untuk menirukan fungsi ke-Maha-anNya itu, sebab dalam diri manusia terdapat fitrah uluhiyah - fitrah suci yang selalu memproyeksikan terntang kebaikan dan keindahan, sehingga tidak mustahil ketika manusia melakukan sujud dan dzikir kepadaNya, Manusia berarti tengah menjalankan fungsi Al Quddus. Ketika manusia berbelas kasih dan berbuat baik kepada tetangga dan sesamanya, maka ia telah memerankan fungsi Arrahman dan Arrahim. Ketikamanusia bekerja dengan kesungguhan dan ketabahan untuk mendapatkan rizki, maka manusia telah menjalankan fungsi Al Ghoniyyu. Demikian pula dengan peran ke-Maha- an Allah yang lain, Assalam, Al Mukmin, dan lain sebagainya. Atau pendek kata, manusia dengan anugrah akal dan seperangkat potensi yang dimilikinya yang dikerjakan dengan niatyang sungguh-sungguh, akan memungkinkan manusia menggapai dan memerankan fungsi-fungsi Asma'ul Husna.
Di dalam melakukan pekerjaannya itu, manusia diberi kemerdekaan untuk memilih dan menentukan dengan cara yang paling disukai. 14) Dari semua pola tingkah lakunya manusia akan mendapatkan balasan yang setimpal dan sesuai yang diupayakan, karenanya manusia dituntut untuk selalu memfungsikan secara maksimal ke4merdekaan yang dimilikinya, baik secara perorangan maupun secara bersama-sama dalam konteks kehidupan di tengah-tengah alam dan kerumunan masyarakat, sebab perubahan dan perkembangan hanyalah milikNya, oleh dan dari manusia itu sendiri.15)
Sekalipun di dalam diri manusia dikaruniai kemerdekaan sebagai esensi kemanusiaan untuk menentukan dirinya, namun kemerdekaan itu selalu dipagari oleh keterbatasan-keterbatasan, sebab prerputaran itu semata-mata tetap dikendalaikan oleh kepastian-kepastian yang Maha Adil lagi Maha Bijaksana,yang semua alam ciptaanNya iniselalu tunduk pada sunnahNya, pada keharusan universal atau takdir. 16 ) Jadi manusia bebas berbuat dan berusaha ( ikhtiar ) untuk menentukan nasibnya sendiri, apakah dia menjadi mukmin atau kafir, pandai atau bodoh, kaya atau miskin, manusia harus berlomba-lomba mencari kebaikan, tidak terlalu cepat puas dengan hasil karyanya. Tetapi harus sadar pula dengan keterbatasan- keterbatasannya, karaena semua itu terjadi sesuai sunnatullah, hukum alam dan sebab akibat yang selamanya tidak berubah, maka segala upaya harus diserrtai dengan tawakkal. Dari sini dapat dipahami bahwa manusia dalam hidup dan kehidupannya harus selalu dinamis, penuh dengan gerak dan semangat untuk berprestasi secara tidak fatalistis. Dan apabila usaha itu belum berhasil, maka harus ditanggapi dengan lapang dada, qona'ah (menerima) karena disitulah sunnatullah berlaku. Karenanya setiap usaha yang dilakukan harus disertai dengan sikap tawakkal kepadaNya. 17 )

3. HUBUNGAN MANUSIA DENGAN MANUSIA
Kenyataan bahwa Allah meniupkan ruhNya kepada materi dasar manusia menunjukan , bahwa manusia berkedudukaan mulia diantara ciptaan-ciptaan Allah.
Memahami ketinggian eksistensi dan potensi yang dimiliki manusia, anak manusia mempunyai kedudukan yang sama antara yang satu dengan yang lainnya. Sebagai warga dunia manusia adalah satu dan sebagai warga negara manusia adalah sebangsa , sebagai mukmin manusia adalah bersaudara. 18)
Tidak ada kelebihan antara yang satu dengan yang lainnya , kecuali karena ketakwaannya. Setiap manusia memiliki kekurangan dan kelebihan, ada yang menonjol pada diri seseorang tentang potensi kebaikannya , tetapi ada pula yang terlalu menonjol potensi kelemahannya, agar antara satu dengan yang lainnya saling mengenal, selalu memadu kelebihan masing-masing untuk saling kait mengkait atau setidaknya manusia harus berlomba dalam mencaridanmencapai kebaikan, oleh karena itu manusia dituntut untuk saling menghormati, bekerjasama, totlong menolong, menasehati, dan saling mengajak kepada kebenaran demi kebaikan bersama.
Manusia telah dan harus selalu mengembangkan tanggapannya terhadap kehidupan. Tanggapan tersebut pada umumnya merupakan usaha mengembangkan kehidupan berupa hasil cipta, rasa, dan karsa manusia. Dengan demikian maka hasil itu merupakan budaya manusia, yang sebagian dilestarikan sebagai tradisi, dan sebagian diubah. Pelestarian dan perubahan selalu mewarnai kehidupan manusia. Inipun dilakukan dengan selalu memuat nilai-nilai yang telah disebut di bagian awal, sehingga budaya yang bersesuaian bahkan yang merupakan perwujudan dari nilai-nilai tersebut dilestarikan, sedang budaya yang tidak bersesuaian diperbaharui.
Kerangka bersikap tersebut mengisyaratkan bergerak secara dinamik dan kreatif dalam kehidupan manusia. Manusia dituntut untuk memanfaatkan potensinya yang telah dianugerahkan oleh Allah SWT. Melalui pemanfaatan potensi diri itu justru manusia menyadari asal mulanya, kejadian, dan makna kehadirannya di dunia.
Dengan demikian pengembangan berbagai aspek budaya dan tradisi dalam kehidupan manusia dilaksanakan sesuai dengan nilai dalam hubungan dengan Allah, manusia dan alam selaras dengan perekembangan kehidupandan mengingat perkembangan suasana. Memang manusia harus berusaha menegakan iman, taqwa dan amal shaleh guna mewujudkan kehidupan yang baik dan penuh rahmat di dunia. Di dalam kehidupan itu sesama manusia saling menghormati harkat dan martabat masing-masing , berderajat, berlaku adil dan mengusahakan kebahagiaan bersama. Untuk diperlukan kerjasama yang harus didahului dengan sikap keterbukaan, komunikasi dan dialog antar sesama. Semua usaha dan perjuangan ini harus terus -menerus dilakukan sepanjang sejarah.
Melalui pandangan seperti ini pula kehidupan bermasyarakat,berbangsa dan bernegara dikembangkan. Kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara merupakan kerelaan dan kesepakatan untuk bekerja sama serta berdampingan setara dan saling pengertian. Bermasyarakat, berbangsa dan bernegara dimaksudkan untuk mewujudkan cita-cita bersama : hidup dalam kemajuan, keadilan, kesejahteraan dan kemanusiaan. Tolok ukur bernegara adalah keadilan, persamaan hukum dan perintah serta adanya permusyawaratan.
Sedangkan hubungan antara muslim ddan non muslim dilakukan guna membina kehidupan manusia dengan tanpa mengorbankan keyakinan terhadap universalitas dan kebenaran Islam sebagai ajaran kehidupan paripurna. Dengan tetap berpegang pada keyakinan ini, dibina hubungan dan kerja sama secara damai dalam mencapai cita-cita kehidupan bersama ummat manusia.Nilai -nilai yang dikembangkan dalam hubungan antar manusia tercakup dalam persaudsaraan antar insan pergerakan , persaudaraan sesama Islam , persaudaraan sesama warga bangsa dan persaudaraan sesama ummat manusia . Perilaku persaudaraan ini , harusd menempatkan insan pergerakan pada posisi yang dapatv memberikan kemanfaatan maksimal untuk diri dan lingkungan persaudaraan.

4. HUBUNGAN MANUSIA DENGAN ALAM
Alam semesta adalah ciptaan Allah SWT. 19) Dia menentukan ukuran dan hukum-hukumnya.20) Alam juga menunjukan tanda-tanda keberadaan, sifat dan perbuatan Allah. 21) Berarti juga nilai taiuhid melingkupi nilai hubungan manusia dengan alam .
Sebagai ciptaan Allah, alam berkedudukan sederajat dengan manusia. Namun Allah menundukan alam bagi manusia , 22) dan bukan sebaliknya . Jika sebaliknya yang terjadi, maka manusia akan terjebak dalam penghambaan terhadap alam , bukan penghambaan terhadap Allah. Karena itu sesungguhnya berkedudukan sebagai khalifah di bumi untuk menjadikan bumi maupun alam sebagai obyek dan wahana dalam bertauhid dan menegaskan dirinya. 23)
Perlakuan manusia terhadap alam tersebut dimaksudkan untuk memakmurkan kehidupan di dunia dan diarahkan kepada kebaikan di akhirat, 24) di sini berlaku upaya berkelanjutan untuk mentransendensikan segala aspek kehidupan manusia. 25) Sebab akhirat adalah masa masa depan eskatologis yang tak terelakan . 26) Kehidupan akhirat akan dicapai dengan sukses kalau kehidupan manusia benar-benar fungsional dan beramal shaleh. 27)
Kearah semua itulah hubungan manusia dengan alam ditujukan . Dengan sendirinya cara-cara memanfaatkan alam , memakmurkan bumi dan menyelenggarakan kehidupan pada umumnya juga harus bersesuaian dengan tujuan yang terdapat dalam hubungan antara manusia dengan alam tersebut. Cara-cara tersebut dilakukan untuk mencukupi kebutuhan dasar dalam kehidupan bersama. Melalui pandangan ini haruslah dijamin kebutuhan manusia terhadap pekerjaan ,nafkah dan masa depan. Maka jelaslah hubungan manusia dengan alam merupakan hubungan pemanfaatan alam untuk kemakmuran bersama. Hidup bersama antar manusia berarti hidup dalam kerja sama , tolong menolong dan tenggang rasa.
Salah satu hasil penting dari cipta, rasa, dan karsa manusia yaitu ilmu pengetahuan dan teknologi (iptek). Manusia menciptakan itu untuk memudahkan dalam rangka memanfaatkan alam dan kemakmuran bumi atau memudahkan hubungan antar manusia . Dalam memanfaatkan alam diperlukan iptek, karena alam memiliki ukuran, aturan, dan hukum tertentu; karena alam ciptaan Allah buykanlah sepenuhnya siap pakai, melainkan memerlukan pemahaman terhadap alam dan ikhtiar untuk mendayagunakannya.
Namun pada dasarnya ilmu pengetahuan bersumber dari Allah. Penguasaan dan pengembangannyadisandarkan pada pemahaman terhadap ayat-ayat Allah. Ayat-ayat tersebut berupa wahyu dan seluruh ciptaanNya. Untuk memahami dan mengembangkan pemahaman terhadap ayat-ayat Allah itulah manusia mengerahkan kesadaran moral, potensi kreatif berupa akal dan aktifitas intelektualnya. Di sini lalu diperlukan penalaran yang tinggi dan ijtihad yang utuh dan sistimatis terhadap ayat-ayat Allah, mengembangkan pemahaman tersebut menjadi iptek, menciptakan kebaruan iptek dalam koteks ke,manusiaan, maupun menentukan simpul-simpul penyelesaian terhadap masalah-masalah yang ditimbulkannya. Iptek meruipakan perwujudan fisik dari ilmu pengetahuan yang dimiliki manusia, terutama digunakan untuk memudahkan kehidupan praktis.
Penciptaan, pengembangan dan penguasaan atas iptek merupakan keniscayaan yang sulit dihindari. Jika manusia menginginkan kemudahan hidup, untuk kesejahteraan dan kemakmuran bersama bukan sebaliknya. Usaha untuk memanfaatkan iptek tersebut menuntut pengembangan semangat kebenaran, keadilan , kmanusiaan dan kedamaian. Semua hal tersebut dilaksanakan sepanjang hayat, seiring perjalanan hidup manusia dan keluasan iptek. Sehingga, berbarengan dengan keteguhan iman-tauhid, manusia dapat menempatkan diri pada derajat yang tinggi.
BAB III
PENUTUP
Itulah Nilai Dasar Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia yang dipergunakan sebagai landasan teologis normatif, etis dan motivatif dalam pola pikir, pola sikap dan pola perilaku warga PMII, baik secara perorangan maupun bersama-sama dan kelembagaan. Rumusan tersebut harus selalu dikaji dan dipahami secara mendalam, dihayati secara utuh dan terpadu, dipegang secara teguh dan dilaksanakan secara bijaksana.
Dengan Nilai Dasar Pergerakan tersebut dituju pribadi muslim yang berbudi luhur , berilmu, bertaqwa, cakap dan bertanggung jawab dalam mengamalkan ilmu pengetahuannya, yaitu sosok ulul albab Indonesia yang sadar akan kedudukan dan peranannya sebagai khalifah Allah di bumi dalam jaman yang selalu berubah dan berkembang , beradab, manusiwi, adil penuh rahmat dan berketuhanan.

Sejarah PMII

Sejarah PMII

Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) lahir karena menjadi suatu kebutuhan dalam menjawab tantangan zaman. Berdirinya organisasi Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia bermula dengan adanya hasrat kuat para mahasiswa NU untuk mendirikan organisasi mahasiswa yang berideologi Ahlusssunnah wal Jama'ah. Dibawah ini adalah beberapa hal yang dapat dikatakan sebagai penyebab berdirinya PMII:

1. Carut marutnya situasi politik bangsa indonesia dalam kurun waktu 1950-1959.
2. Tidak menentunya sistem pemerintahan dan perundang-undangan yang ada.
3. Pisahnya NU dari Masyumi.
4. Tidak enjoynya lagi mahasiswa NU yang tergabung di HMI karena tidak terakomodasinya dan terpinggirkannya mahasiswa NU.
5. Kedekatan HMI dengan salah satu parpol yang ada (Masyumi) yang nota bene HMI adalah underbouw-nya.
Hal-hal tersebut diatas menimbulkan kegelisahan dan keinginan yang kuat dikalangan intelektual-intelektual muda NU untuk mendirikan organisasi sendiri sebagai wahana penyaluran aspirasi dan pengembangan potensi mahasiswa-mahsiswa yang berkultur NU. Disamping itu juga ada hasrat yang kuat dari kalangan mahsiswa NU untuk mendirikan organisasi mahasiswa yang berideologi Ahlussunnah Wal Jama’ah.

Di Jakarta pada bulan Desember 1955, berdirilah Ikatan Mahasiswa Nahdlatul Ulama (IMANU) yang dipelopori oleh Wa’il Harits Sugianto.Sedangkan di Surakarta berdiri KMNU (Keluarga Mahasiswa Nahdhatul Ulama) yang dipelopori oleh Mustahal Ahmad. Namun keberadaan kedua organisasi mahasiswa tersebut tidak direstui bahkan ditentang oleh Pimpinan Pusat IPNU dan PBNU dengan alasan IPNU baru saja berdiri dua tahun sebelumnya yakni tanggal 24 Februari 1954 di Semarang. IPNU punya kekhawatiran jika IMANU dan KMNU akan memperlemah eksistensi IPNU.

Gagasan pendirian organisasi mahasiswa NU muncul kembali pada Muktamar II IPNU di Pekalongan (1-5 Januari 1957). Gagasan ini pun kembali ditentang karena dianggap akan menjadi pesaing bagi IPNU. Sebagai langkah kompromis atas pertentangan tersebut, maka pada muktamar III IPNU di Cirebon (27-31 Desember 1958) dibentuk Departemen Perguruan Tinggi IPNU yang diketuai oleh Isma’il Makki (Yogyakarta). Namun dalam perjalanannya antara IPNU dan Departemen PT-nya selalu terjadi ketimpangan dalam pelaksanaan program organisasi. Hal ini disebabkan oleh perbedaan cara pandang yang diterapkan oleh mahasiswa dan dengan pelajar yang menjadi pimpinan pusat IPNU. Disamping itu para mahasiswa pun tidak bebas dalam melakukan sikap politik karena selalu diawasi oleh PP IPNU.

Oleh karena itu gagasan legalisasi organisasi mahsiswa NU senantisa muncul dan mencapai puncaknya pada konferensi besar (KONBES) IPNU I di Kaliurang pada tanggal 14-17 Maret 1960. Dari forum ini kemudian kemudian muncul keputusan perlunya mendirikan organisasi mahasiswa NU secara khusus di perguruan tinggi. Selain merumuskan pendirian organ mahasiswa, KONBES Kaliurang juga menghasilkan keputusan penunjukan tim perumus pendirian organisasi yang terdiri dari 13 tokoh mahasiswa NU. Mereka adalah:

1. A. Khalid Mawardi (Jakarta)
2. M. Said Budairy (Jakarta)
3. M. Sobich Ubaid (Jakarta)
4. Makmun Syukri (Bandung)
5. Hilman (Bandung)
6. Ismail Makki (Yogyakarta)
7. Munsif Nakhrowi (Yogyakarta)
8. Nuril Huda Suaidi (Surakarta)
9. Laily Mansyur (Surakarta)
10. Abd. Wahhab Jaelani (Semarang)
11. Hizbulloh Huda (Surabaya)
12. M. Kholid Narbuko (Malang)
13. Ahmad Hussein (Makassar)
Keputusan lainnya adalah tiga mahasiswa yaitu Hizbulloh Huda, M. Said Budairy, dan Makmun Syukri untuk sowan ke Ketua Umum PBNU kala itu, KH. Idham Kholid.


Pada tanggal 14-16 April 1960 diadakan musyawarah mahasiswa NU yang bertempat di Sekolah Mu’amalat NU Wonokromo, Surabaya. Peserta musyawarah adalah perwakilan mahasiswa NU dari Jakarta, Bandung, Semarang,Surakarta, Yogyakarta, Surabaya, dan Makassar, serta perwakilan senat Perguruan Tinggi yang bernaung dibawah NU. Pada saat tu diperdebatkan nama organisasi yang akan didirikan. Dari Yogyakarta mengusulkan nama Himpunan atau Perhimpunan Mahasiswa Sunny. Dari Bandung dan Surakarta mengusulkan nama PMII. Selanjutnya nama PMII yang menjadi kesepakatan. Namun kemudian kembali dipersoalkan kepanjangan dari ‘P’ apakah perhimpunan atau persatuan. Akhirnya disepakati huruf "P" merupakan singkatan dari Pergerakan sehingga PMII menjadi “Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia”. Musyawarah juga menghasilkan susunan Anggaran Dasar/Anggaran Rumah Tangga organisasi serta memilih dan menetapkan sahabat Mahbub Djunaidi sebagai ketua umum, M. Khalid Mawardi sebagai wakil ketua, dan M. Said Budairy sebagai sekretaris umum. Ketiga orang tersebut diberi amanat dan wewenang untuk menyusun kelengkapan kepengurusan PB PMII. Adapun PMII dideklarasikan secara resmi pada tanggal 17 April 1960 masehi atau bertepatan dengan tanggal 17 Syawwal 1379 Hijriyah.

Independensi PMII
Pada awal berdirinya PMII sepenuhnya berada di bawah naungan NU. PMII terikat dengan segala garis kebijaksanaan partai induknya, NU. PMII merupakan perpanjangan tangan NU, baik secara struktural maupun fungsional. Selanjuttnya sejak dasawarsa 70-an, ketika rezim neo-fasis Orde Baru mulai mengkerdilkan fungsi partai politik, sekaligus juga penyederhanaan partai politik secara kuantitas, dan issue back to campus serta organisasi- organisasi profesi kepemudaan mulai diperkenalkan melalui kebijakan NKK/BKK, maka PMII menuntut adanya pemikiran realistis. 14 Juli 1971 melalui Mubes di Murnajati, PMII mencanangkan independensi, terlepas dari organisasi manapun (terkenal dengan Deklarasi Murnajati). Kemudian pada kongres tahun 1973 di Ciloto, Jawa Barat, diwujudkanlah Manifest Independensi PMII.

Namun, betapapun PMII mandiri, ideologi PMII tidak lepas dari faham Ahlussunnah wal Jamaah yang merupakan ciri khas NU. Ini berarti secara kultural- ideologis, PMII dengan NU tidak bisa dilepaskan. Ahlussunnah wal Jamaah merupakan benang merah antara PMII dengan NU. Dengan Aswaja PMII membedakan diri dengan organisasi lain.

Keterpisahan PMII dari NU pada perkembangan terakhir ini lebih tampak hanya secara organisatoris formal saja. Sebab kenyataannya, keterpautan moral, kesamaan background, pada hakekat keduanya susah untuk direnggangkan.